Info IT Umum/2015, Netbook Bakal Punah

KOMPAS.com – Netbook sempat jadi komputer jinjing primadona pada 2008 silam, karena bentuk mungil, ringan, dan harga terjangkau. Tapi ia hanya jadi perangkat komputer transisi yang akan mengantar manusia ke era post-PC.

Netbook akan mengalami kepunahan di tahun 2015 nanti, setidaknya ini adalah prediksi dari lembaga riset iSuppli IHS. Seperti dikutip dari ZDNet, Jumat (12/4/2013), hal ini didasarkan atas dukungan yang telah dihentikan beberapa produsen komputer terhadap netbook.

Tanda-tanda kepunahan netbook nampak terlihat mulai 2013. Menurut iSuppli, pengiriman netbook secara global di tahun 2013 hanya akan mencapai 3,97 juta unit. Angka ini turun 72 persen dari total pengiriman 14.130.000 pada 2012.

iSuppli mencatat, pengiriman tertinggi netbook terjadi pada 2010 yang mencapai 32.140.000 unit ke seluruh dunia.

Di tahun 2014, menurut iSuppli, pengiriman netbook hanya akan berada di angka 264.000 unit. Ini bisa menjadi pengiriman netbook yang terakhir, sebelum menuju kepunahan atau sama sekali tak ada pengiriman pada 2015.

“Dari akhir pasokan produksi, produsen komponen komputer akan mengnetikan produksi netbook pada saat ini. Apapun produksi yang masih dilakukan diperkirakan akan terbatas, atau produsen hanya akan melakukan pengiriman terakhir untuk memenuhi kewajiban kontrak kepada pelanggan,” tulis iSuppli dalam sebuah laporan.

Netbook tidak menjadi produk komputer jinjing yang punya kekuatan besar karena performa komputasinya yang terbatas. Bentuknya yang portabel telah dikalahkan oleh tablet yang semakin mendukung mobilitas manusia.

Produsen komputer Dell asal Amerika Serikat, pertama kali menyatakan diri untuk berhenti memproduksi netbook pada Desember 2011. Langkah Dell diikuti produsen lain, seperti Samsung, Sony, Toshiba, dan Hewlett Packard (HP).

Tiga pemain besar netbook asal Taiwan, yakni Asus, Acer dan MSI, juga akan mengentikan produksi netbook.

(www.tekno.kompas.com).

Info IT Umum/Seperti Apa Dunia Digital Masa Depan?

KOMPAS.com – Dalam buku berjudul The Extreme Future: the Top Trends that Will Reshape the World in the Next 5, 10, and 20 Years, yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1997, seorang futurist bernama James Canton memaparkan beberapa tren yang akan mengubah wajah dunia masa depan.

James Canton adalah  seorang entrepreneur, sekaligus CEO dan Chairman Institute for Global Future, sebuah lembaga think tank yang bermarkas di San Fransisco, AS.

Di buku tersebut, selain meramalkan soal transformasi ekonomi secara global dan krisis energi yang akan memuncak, Canton juga menggambarkan peran penting ilmu pengetahuan dan teknologi dalam merevolusi dunia. Dia juga mengangkat istilah “innovation economy” atau ekonomi yang berbasis inovasi.

Innovation economy berbicara tentang bagaimana manusia harus mampu berpikir ke depan, menciptakan ide, lalu memanfaatkan teknologi untuk mewujudkan ide tersebut menjadi inovasi yang bisa dikembangkan secara ekonomi dan global. Contohnya seperti penemuan bola lampu oleh Thomas Alva Edison.

Canton juga meramalkan soal inovasi-inovasi berbasis sains dan teknologi. Beberapa contohnya sudah bisa kita lihat saat ini, seperti komputer yang ukurannya semakin mungil, robot-robot yang bisa menggantikan fungsi manusia dan mendampingi manusia dalam bekerja, serta beragam teknologi “ajaib” di dunia medis. Menurutnya, kloning organ tubuh tidak akan menjadi hal yang aneh di masa depan.

Selain ramalan positif tentang inovasi teknologi, Canton juga memaparkan ramalan yang mengerikan tentang masa depan, termasuk kejahatan-kejahatan yang memanfaatkan teknologi. Contohnya, bioterorisme dan terorisme cyber.

Nah, rupanya bukan Canton saja yang ingin membuat prediksi tentang dunia masa depan. Dua pejabat Google, Eric Schmidt dan Jared Cohen, pun melakukan riset untuk memprediksi masa depan dunia.

“The New Digital Age”

Bulan Januari 2013, media banyak memberitakan soal kunjungan Chairman Google, Eric Schmidt, ke Korea Utara. Dalam perjalanan itu, Schmidt ditemani oleh Jared Cohen, salah seorang direktur di Google. Kunjungan itu menuai banyak pertanyaan dari publik, serta kritik dari Pemerintah AS. Terlebih lagi, sebulan sebelumnya, yakni pada Desember 2012, baru terjadi insiden peluncuran roket yang dilakukan oleh pemerintah Korea Utara.

Kunjungan Schmidt dan Cohen ke negara yang menjadi saudara sekaligus musuh dari Korea Selatan itu terbilang menarik, terutama karena selama ini Korea Utara dikenal sebagai salah satu negara yang sangat membatasi penggunaan internet. Apakah kunjungan itu merupakan bagian dari misi Google untuk membawa internet ke dunia?

Ternyata, kunjungan tersebut merupakan salah satu dari sekian banyak kunjungan yang dilakukan oleh Schmidt dan Cohen untuk melakukan riset demi menyusun buku mereka yang berjudul “The New Digital Age: Reshaping the Future of People, Nations and Business”. Inti dari buku yang diterbitkan pada 23 April 2013 lalu itu, adalah tentang bagaimana teknologi dan internet bisa mengubah dunia.

Untuk menyusun buku itu, selain mengunjungi Pyongyang, ibukota Korea Utara, Schmidt dan Cohen juga mengunjungi negara-negara lain di kawasan Timur Tengah, Afrika, Eropa, dan Asia. Dalam kunjungan-kunjungan itu, mereka bertemu dengan para pemimpin negara, entrepreneur, serta para aktivis untuk melihat dan mendengar langsung tentang tantangan-tantangan teknologi yang dihadapi di setiap negara.

Eric Schmidt dan Jared Cohen adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan dan segudang pengalaman di dunia internet dan teknologi. Schmidt dikenal sebagai salah seorang pemimpin hebat di Silicon Valley. Mantan CEO Google ini memiliki andil besar dalam membesarkan perusahaan yang didirikan oleh Sergey Brin dan Larry Page, hingga mendunia seperti saat ini.

Sementara Jared Cohen adalah direktur Google Ideas, unit think tank di Google yang meneliti dampak-dampak teknologi. Cohen yang merupakan mantan penasihat dua orang Menteri Luar Negeri AS, yakni Condoleezza Rice dan Hillary Clinton, mempunyai peran penting dalam membantu pemerintah AS membentuk cara berpikir mereka mengenai teknologi.

Dalam buku tersebut, kedua “global thinker” itu berkolaborasi memaparkan visi-visi mereka tentang masa depan. Dalam satu kalimat, dunia masa depan menurut mereka adalah sebuah dunia di mana orang-orang saling terhubung—dunia yang penuh dengan tantangan dan membuka banyak kesempatan bagi setiap orang.

Schmidt dan Cohen menggabungkan pengetahuan dan pengalaman mereka untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pelik tentang masa depan.

Contohnya, kekuatan siapakah yang lebih besar di masa mendatang—sebuah negara atau warganya? Akankah teknologi mempermudah atau mempersulit teroris dalam melakukan aksinya? Ketika orang-orang telah terhubung melalui internet, perubahan apakah yang akan terjadi dalam perang, diplomasi, dan revolusi di masa depan? Lalu, bagaimana teknologi dapat membantu membangun masyarakat?

Editor: Reza Wahyudi
(www.tekno.kompas.com)/(pj-pde).

Info IT Umum/2014: Jumlah Ponsel Melebihi Jumlah Manusia

Akan ada lebih banyak jumlah telepon seluler di dunia dibandingkan jumlah manusia pada akhir tahun depan, demikian laporan sebuah badan PBB.

International Telecoms Union (ITU) memprediksi bahwa jumlah ponsel yang digunakan orang di seluruh dunia akan melampaui tujuh miliar di awal 2014.

Saat ini ada 6,8 miliar nomor ponsel aktif, dan jumlah manusia mencapai 7,1 miliar.

Laporan ITU World 2013 itu juga menunjukkan bahwa sepertiga populasi global kini sudah online.

Commonwealth of Independent States, sebuah aliansi negara-negara bekas Uni Soviet, memiliki penetrasi ponsel tertinggi.

Setiap orang di negara itu memiliki lebih dari satu ponsel.

Afrika menjadi negara dengan penetrasi terendah yaitu 63 setiap 100 orang.

“Setiap hari kita semakin dekat dengan saat ketika jumlah ponsel yang digunakan sama dengan jumlah populasi di bumi,” kata Brahima Sanou, direktur Biro Pembangunan Telekomunikasi ITU.

“Revolusi ponsel benar-benar sebuah gerakan yang memberdayakan orang-orang di negara berkembang dengan adanya aplikasi teknologi komunikasi dalam pendidikan, kesehatan, pemerintahan, perbankan, lingkungan dan bisnis.”

Editor: Reza Wahyudi
(www.tekno.kompas.com)/(pj-pde).

Info IT Umum/Orang Indonesia Gemar “Berbagi” Belanja Online

KOMPAS.com - Dalam sebuah survei Index E-Commerce yang dilakukan Rakuten, Indonesia mendominasi dalam hal perilaku belanja online yang memanfaatkan rekomendasi di jejaring sosial.

Survei global yang dilakukan Rakuten itu menyebutkan, pengguna e-commerce di Indonesia mencapai 78 persen yang melakukan rekomendasi produk lewat media dan jejaring sosial.

Angka itu merupakan persentase tertinggi dalam survei. Bandingkan dengan Malaysia (67%), Thailand (65%) ataupun Amerika Serikat (39%).

Rata-rata nilai belanja per orang untuk 2012 — dari seluruh negara yang disurvei — mencapai Rp 7 juta-an (Rp 7.032.000). Namun ada jurang yang cukup besar antar negara.

Contohnya, Inggris disebutkan memiliki rata-rata belanja online hampir Rp 16,5 juta (Rp 16.490.000), sedangkan Indonesia hanya Rp 2,3 juta (Rp 2.318.000).

Ryota Inaba, Presiden Direktur dan CEO Rakuten Belanja Online, mengatakan bahwa ada pertumbuhan hingga 2,5 kali lipat untuk belanja melalui jejaring sosial.

Inaba pun menyitir hasil penelitian lembaga riset Gartner mengenai tren yang dilabel “belanja sosial” ini. “Sekitar  50% informasi tentang konsumen baru akan didapat berdasarkan identitas dari jejaring  sosial, misalnya ‘login melalui Facebook’ pada akhir 2015,” ujarnya.

Menurutnya, Rakuten pun berusaha agar konsumen bisa lebih mudah dalam berbagi konten rekomendasi produk melalui berbagai media sosial yang ada.

Masih Gemar ke Toko

Data lain yang terungkap dalam survei itu, sebanyak 14 persen konsumen di Indonesia melakukan kegiatan belanja online melalui smartphone, tablet dan perangkat mobile lain.

Namun, ada sekitar 28 persen konsumen e-commerce Indonesia yang masih bertahan untuk berbelanja secara konvensional alias pergi ke toko.

Bandingkan angka itu dengan Inggris (12%), Amerika Serikat (10%) dan Spanyol (9%) yang peminat belanja online — di kalangan pengguna e-commerce– makin menipis.

Tapi, lihat juga Austria (46%) dan Jerman (46%) yang ternyata masih bertahan dengan tradisi belanja konvensional.

Inaba mengatakan apapun cara konsumen berbelanja, hal terpenting adalah pengalaman berbelanja itu harus menyenangkan.

Jika dikaitkan dengan belanja online, Inaba menasehati agar toko online tak semata-mata memikirkan salah satu cara saja konsumen akan berkunjung.

“Bukan masanya lagi memiliki website yang hanya memajang dagangan Anda, namun harus memastikan bahwa mereka menawarkan semua informasi yang dibutuhkan oleh pebelanja: melalui website atau penawaran lewat mobile,” tuturnya.

(www.tekno.kompas.com)/(pj-pde).

Info IT Umum/25 Persen Komputer Dunia Tidak Pakai Antivirus

JAKARTA, KOMPAS.com – Salah seorang peneliti dari perusahaan keamanan jaringan Eset, Stephen Cobb, berhasil menemukan sebuah fakta menarik seputar penggunaan anti-malware di PC. Menurutnya, sekitar 25 persen perangkat komputer di seluruh dunia ternyata tidak dilengkapi dengan perangkat lunak antivirus/anti-malware.

Mesir dinobatkan menjadi negara yang warganya paling jarang menggunakan anti-malware dengan angka 40 persen. Di tempat kedua ada Amerika Serikat dengan 26 persen, dan terakhir ditempati Inggris dengan 21 persen.

Riset tersebut dilakukan berdasarkan data yang diperoleh dari penyedia jasa layanan internet yang meliputi 600 juta komputer di seluruh dunia.

Apa efek buruk dari tidak dilindunginya komputer dengan anti-malware? Menurut Eset, berdasarkan rilis pers yang KompasTekno terima, Selasa (30/4/2013), PC yang tidak terlindungi rata-rata mengalami serangan malware sebanyak 5,5 kali.

Memasuki semester kedua tahun 2012, ada 2,5 dari 10 komputer di dunia atau 25 persen komputer tidak terlindungi oleh software antivirus yang up-to-date.

Menurut informasi dari Microsoft, komputer yang tidak terlindungi kebanyakan disebabkan beberapa aspek yang bisa berdiri sendiri maupun kombinasinya. Aspek penyebab tersebut diantaranya karena ketidaktahuan pengguna, berakhirnya masa trial antivirus, maupun karena tertipu oleh antivirus palsu.

Pada beberapa kasus, banyak pengguna akhirnya memutuskan untuk tidak menggunakan antivirus karena software tersebut “konflik” dengan software game online.

“Pada banyak kasus, karena untuk kebutuhan seperti bermain game online, software antivirus sengaja di-disable, tetapi kemudian mereka lupa untuk mengaktifkannya kembali,” kata Yudhi Kukuh, Technical Consultant PT. Prosperita Eset Indonesia.

Sekadar informasi, dari laporan sebelumnya diketahui, survei terhadap 1.000 PC gamer online di Inggris menghasilkan sebuah fakta yang mencengangkan. Sekitar 30 persen pemain mengaku men-disable aplikasi keamanan sebelum mulai bermain. AKibatnya separuh dari mereka, terkena infeksi malware dan butuh lebh dari dua hari untuk melakukan perbaikan komputer.

Editor: Reza Wahyudi
(www.tekno.kompas.com)/(pj-pde).

 

Info IT Umum/Adskom Buka Kantor di Indonesia

KOMPAS.com – Perusahan teknologi periklanan baru bernama Adskom membuka kantor di bilangan SCBD, Jakarta. Adskom didirikan oleh duet mantan CTO Koprol Daniel Armanto dan praktisi/ pengusaha bisnis digital Italo Gani.

Didukung pemodal Rebright Partners dari Jepang, perusahaan yang baru didirikan bulan lalu ini menawarkan otomatisasi penjualan ruang iklan digital bagi publisher melalui SSP (Supply-Side Platform) buatan sendiri yang diklaim merupakan yang pertama di Asia Tenggara.

“Sebenarnya dari luar negeri sudah ada beberapa pemain dari luar yang mencoba ekspansi di wilayah Asia Tenggara, tapi belum ada yang didukung pendanaan serius. Kami adalah yang pertama,” ujar Italo ketika dijumpai di Jakarta, Selasa (30/4/2013).

SSP berfungsi sebagai platform yang menjembatani publisher selaku pemilik ruang iklan dengan beberapa jaringan iklan sekaligus (ad-exchange) yang diagregasi ke dalam satu tempat.

Melalui otomatisasi proses pembelian dan penjualan iklan, publisher bisa menjual ad space dengan lebih efisien serta mengkonversi remnant inventory menjadi aliran pendapatan, sementara pengiklan bisa menghindari targeting audience yang sama lebih dari sekali.

Incar regional

Kendati memiliki kantor di Jakarta, Italo mengaku perusahaannya berkantor pusat di Singapura. “Itu karena kami mengincar pasar regional di Asia Tenggara, dimulai dari Indonesia,” jelasnya.

Untuk saat ini, Adskom yang berencana akan memulai operasi pada kuartal ketiga 2013 akan memfokuskan bisnisnya pada publisher skala besar, dikarenakan angka permintaan yang tinggi di segmen itu.

Adskom juga berencana menerapkan sistem Real Time Bidding (RTB) di mana sebuah ad space yang kosong bisa ditempati oleh pengiklan yang menawarkan harga terbesar.

“Untuk saat ini di Indonesia agaknya masih belum perlu diterapkan RTB, tetapi roadmap kami memang mengarah ke situ. Rencananya sudah diterapkan akhir tahun ini atau kuartal pertama tahun depan,” tandas Italo.

(www.tekno.kompas.com)/(pj-pde).

Info IT Umum/Indonesia Bangun Pusat Investigasi Kejahatan “Cyber”

JAKARTA, KOMPAS.com – Wakil Kepala Kepolisian Negara RI Komisaris Jenderal Nanan Sukarna, mewakili Kepala Polri Jenderal (Pol) Timur Pradopo, bersama Kepala Australian Federal Police Commissioner Tony Negus APM meresmikan pengoperasian kantor pusat investigasi kejahatan dunia maya, Cyber Crime Investigations Satellite Office Kepolisian Daerah Metro Jaya, Senin (29/4).

Nanan Sukarna mengatakan, pembangunan CCISO ini merupakan kerja sama Polri dan AFP yang dilaksanakan sejak tahun 2010. Selain ada di Polda Metro, CCISO juga ada di Mabes Polri, Polda Sumatera Utara, Polda Bali, dan Polda Nusa Tenggara Barat. Di masa mendatang akan diadakan di semua polda.

Tony Negus menjelaskan, untuk membantu pengadaan seluruh peralatan dan mempersiapkan personel CCISO, Australia menyediakan dana sekitar 9 juta dollar Australia.

Untuk mempersiapkan personel, menurut Nanan, akan diadakan pelatihan pada Juni mendatang.

Kerja sama antarnegara

Nanan menjelaskan, setiap negara menghadapi kenyataan bahwa sistem komunikasi saat ini, dengan kemajuan teknologi informatika, saling terkoneksi. Dampaknya, tak ada lagi batas wilayah jika terjadi kejahatan di dunia maya. Untuk itu, setiap negara harus bekerja sama mengatasinya.

Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komisaris Jenderal Sutarman mengatakan, terkait masalah cyber crime, Polri sudah bekerja sama dengan beberapa negara. Namun, kerja sama yang sangat khusus baru dengan AFP. Kerja sama dengan AFP dibangun sejak peristiwa bom Bali. Hasilnya, Polri dapat mengungkap semua jaringan teroris yang terlibat dalam kasus tersebut.

Ia juga mengingatkan, cyber crime sangat berbahaya dan bisa berhubungan dengan kejahatan lain, seperti terorisme dan kejahatan terorganisasi lain.

”Kita bisa bayangkan, situs web kepresidenan saja bisa dibobol. Kalau seandainya data bank bisa dibobol, lalu rekening di bank itu dipindahkan ke orang lain, ini bisa sangat berbahaya sekali. Bisa menghancurkan perekonomian,” papar Sutarman.

Saat ini, sistem e-government terkoneksi satu sama lain. Kalau ini dibobol, kegiatan pemerintah pun akan lumpuh,” ujarnya.

Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Putut Eko Bayuseno pun mengimbau, masyarakat yang mengalami kejahatan dunia maya bisa segera melapor kepada polisi sehingga personel CCISO bisa cepat melacak. ”Setiap laporan masuk pasti akan kami tindak lanjuti,” katanya.

Menurut Wakil Direktur Kriminal Khusus Ajun Komisaris Besar Hery Santoso, Polda Metro menerima sekitar 800 kasus cyber crime per tahun. Sebelum ada kerja sama dengan AFP, pengungkapan kasus sangat kecil. Namun, setelah ada kerja sama dengan AFP, mulai Juni 2012, penyelesaian kasus mencapai 40 persen dari total kasus yang masuk.

”Dengan sudah beroperasinya CCISO yang lengkap dengan peralatannya, kami targetkan penyelesaian kasus bisa 60 persen per tahun,” katanya. (RTS)

(www.tekno.kompas.com)/(pj-pde).

Info IT Umum/6 Aplikasi “Chat” Bakal Matikan SMS

KOMPAS.com — Layanan pesan singkat atau short message service (SMS) adalah salah satu medium komunikasi terpopuler yang diakses lewat telepon genggam. Kini, seiring dengan pesatnya pertumbuhan smartphone dan aplikasi-aplikasi chatting, popularitas SMS agaknya telah mulai memudar.

Laporan global lembaga riset Informa menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2012 lalu, rata-rata harian jumlah pesan yang dikirim lewat aplikasi chatting sudah lebih tinggi daripada SMS, yaitu 19 miliar pesan per hari berbanding 17,6 miliar pesan per hari.

Angka itu diperoleh dari enam aplikasi chatting mobile terpopuler, termasuk WhatsApp, BlackBerry Messenger, Viber, Nimbuzz, iMessage, dan KakaoTalk.

Tahun 2014 mendatang, Informa memperkirakan jumlah pesan yang dikirim lewat aplikasi chat akan mencapai 50 miliar pesan per hari, berbanding 21 miliar pesan per hari yang dikirim via SMS.

Masih hidup

Kendati sudah tersalip oleh aplikasi chatting, SMS diperkirakan masih akan terus dipakai hingga beberapa tahun ke depan. “Masih ada banyak kehidupan di dalam SMS,” ujar analis Informa, Pamela Clark-Dickson, seperti dikutip dari BBC.

Lembaga itu mencatat angka pengguna SMS pada 2012 mencapai 3,5 miliar di seluruh dunia. Pada tahun yang sama, pengguna aplikasi chatting mencapai 583,3 juta yang terbagi dalam enam platform yang telah disebut sebelumnya.

Angka pengguna aplikasi chatting tersebut belum termasuk pengguna Facebook Messenger for Android (100-500 juta pengguna) dan aplikasi Ten Cent asal China (sekitar 300 juta pengguna).

Disparitas jumlah pengguna itu berbanding terbalik dengan rata-rata pesan yang dikirim tiap pengguna per hari. Pengguna aplikasi chatting rata-rata mengirim 32,6 pesan per hari, sementara pengguna SMS hanya lima pesan per hari.

Alasannya ialah melibatkan faktor harga, di mana aplikasi-aplikasi chatting tersebut secara umum bisa digunakan secara cuma-cuma, sementara SMS dikenakan biaya pengiriman pesan.

“Saya pikir SMS masih akan tetap hidup hingga beberapa tahun lagi,” tambah Clark-Dickson. Informa memperkirakan pendapatan dari SMS akan tumbuh menjadi 127 miliar dollar AS pada 2016, dari 115 miliar dollar AS yang tercatat tahun lalu.

Editor: Reza Wahyudi

(www.tekno.kompas.com)/(pj-pde).

Info IT Umum/Ini Dia, Perusahaan di Balik Teknologi e-KTP

KOMPAS.com – Proyek e-KTP di Indonesia adalah salah satu implementasi identitas elektronik terbesar di dunia. Menurut NXP Semiconductors, ada sekitar 172 juta chip yang dipasok untuk proyek ini.

NXP, sebuah perusahaan yang bermarkas di Belanda, adalah salah satu perusahaan yang memasok teknologi untuk penerapan e-KTP di Tanah Air.

Perusahaan itu tergabung bersama pemasok lain dan perusahaan dalam negeri dalam konsorsium Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI).

Seperti apa peranan NXP? Dalam keterangan tertulisnya, NXP menyebutkan telah menyediakan sistem mikrokontroler aman dan Secure Application Modules (SAM) tertanam serta pembaca Integrated Chips (IC). Teknologi yang disediakannya itu berperan dalam keamanan serta interoperabilitas sistem e-KTP.

Phil Sealy, analis industri dari ABI Research menganggap konsorsium PNRI telah bekerja sesuai jadwal dalam menyelenggarakan proyek e-KTP tersebut.

“Di masa yang akan datang, ABI Research berharap pemerintah Indonesia bisa lebih memperluas dan meningkatkan kemampuannya untuk merangkul warga negara dengan layanan-layanan e-government,” kata Sealy.

Ulrich Huewels, VP dan general manager, business line secure card solutions, NXP Semiconductors, mengatakan penerapan identitas elektronik seperti e-KTP bisa membawa manfaat bagi masyarakat.

“Ini memiliki potensi untuk benar-benar memberikan perubahan dalam masyarakat dengan menyediakan kemudahan dan akses aman terhadap layanan-layanan publik bagi warga negara – contoh terbaiknya adalah kemampuan e-Voting yang dimungkinkan oleh kartu cerdas e-KTP Indonesia,” kata Huewels.

Editor: Wicaksono Surya Hidayat

(www.tekno.kompas.com0/(pj-pde).

 

Info IT Umum/LivingSocial Diretas, Bagaimana Nasib Data Pelanggan Indonesia?

KOMPAS.com – Satu demi satu sistem keamanan server perusahaan raksasa TI dibobol peretas (hacker). Setelah Apple, Facebook, Twitter, Microsoft, dan Evernote, kini giliran situs daily deal LivingSocial yang mengungkapkan bahwa mereka telah menjadi korban serangan peretas.

LivingSocial, salah satu perusahaan yang dimiliki oleh Amazon, sebenarnya memiliki banyak cabang. Perusahaan tersebut memiliki perwakilan di Thailand, Korea Selatan, Philipina, dan juga Indonesia.

Apakah sistem server di negara cabang ikut terkena masalah ini? Ternyata tidak. Data situs LivingSocial yang ada di negara-negara tersebut, termasuk Indonesia (livingsocial.co.id), aman dari tangan para peretas.

Hal tersebut bisa terjadi karena ternyata situs-situs LivingSocial negara cabang di-hosting di server yang berbeda dari LivingSocial pusat.

Dalam sebuah e-mail internal LivingSocial yang didapatkan situs AllThingsD, Sabtu (27/4/2013), Tim O’Shaughnessy, CEO LivingSocial, mengumumkan kepada semua karyawannya bahwa “terjadi akses yang tidak sah ke beberapa data di server pusat LivingSocial”.

Jumlah data yang berhasil diakses oleh peratas misterius tersebut ternyata sangat banyak, yaitu sekitar 50 juta data konsumen LivingSocial.

Perusahaan yang berpusat di Washington, AS, tersebut mengaku bahwa peretas tersebut berhasil mengakses data nama, e-mail, ulang tahun, dan kata sandi (password) yang masih dalam keadaan terenkripsi.

Adapun data kartu kredit dan informasi bank dari penggunanya tidak berhasil diakses oleh peretas tersebut.

Pihak LivingSocial sendiri cukup percaya diri dengan menyatakan bahwa kata sandi terenkripsi tersebut sulit untuk dipecahkan. Namun, demi keamanan, mereka meminta untuk setiap penggunanya mengganti kata sandi.

Editor: Reza Wahyudi
(www.tekno.kompas.com)/(pj-pde).

 

© Copyright PDE Sragen 2012